MIMPI MENURUT PSIKOLOGI ISLAM
Makalah ini disusun untuk
memenuhi tugas Mata Kuliah Islam dan Psikologi
Disusun
Oleh:
Dewangga Aji
(11140700000083)
FAKULTAS
PSIKOLOGI UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2016
KATA PENGANTAR
Segala
puji syukur kami haturkan ke hadirat Allah Yang Maha Esa, karena atas rahmat
dan bimbingan-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Makalah
ini merupakan hasil dari tugas mata kuliah Islam dan Psikologi. Makalah ini
berupa penjabaran tentang Mimpi Menurut Psikologi Islam. Makalah ini dibuat
untuk kebutuhan nilai mata kuliah Islam dan Psikologi.
Semoga
makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menjadi salah satu media pembelajaran
bagi para mahasiswa dalam mempelajari mimpi menurut Islam. Kritik dan saran
dari teman-teman pembaca sangat penulis harapkan untuk perbaikan dan
penyempurnaan dalam belajar pada masa mendatang.
Jakarta, 8 Januari 2016
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………… i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………… ii
BAB I :PENDAHULUAN ……………………………………………… 1
DAFTAR ISI ……………………………………………………………… ii
BAB I :PENDAHULUAN ……………………………………………… 1
A. Latar Belakang ……………………………………………………… 1
B. Rumusan Masalah ……………………………………………… 1
C. Tujuan Penulisan………………………………………………………... 1
D. Manfaat Penulisan……………………………………………………… 1
BAB II : PEMBAHASAN …………………………………………….... 2
A. Mimpi Menurut Sigmund Freud ……………………………………… 2
B. Mimpi Menurut Islam ……………..………………………..……… 3
BAB III :
PENUTUP ……………………………………………… 6
DAFTAR
PUSTAKA ……………………………………………… 7
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mimpi merupakan sesuatu yang ghaib.
Setiap manusia pasti telah merasakannya, ia datang tidak terduga, kadang
diharapkan kehadirannya dan kadang tidak. Bagi sebagian orang mimpi dianggap
sebagai bunga tidur, boleh jadi ungkapan itu untuk menunjukkan antara mimpi dan
kenyataan tidak ada kaitan sama sekali. Setiap kali bermimpi dalam tidur akan
berlalu begitu saja. Mimpi hanyalah hiasan manis dalam tidur tergantung kondisi
psikologis orang yang bersangkutan.Tetapi tidak sedikit orang yang mempercayaai
bahwa mimpi-mimpi tertentu merupakan isyarat baik dan buruk yang akan menimpa
diri seseorang. Sehingga bagi mereka yang pernah bermimpi berusaha mencari tahu
gerangan apa yang bakal terjadi dalam kehidupannya, baik atau buruk.
Dalam pandangan Islam tidak semua mimpi mengandung kebenaran.
Mimpi para nabi dan kekasih Allah (awliya) adalah mimpi yang merupakan wahyu
dari Allah, yang benar dan sakral. Mimpi orang-orang salih hampir selalu benar
dan bermakna. Rasulullah SAW bersabda “Mimpi yang benar merupakan satu bagian dari
empat puluh enam cabang kenabian.” “Mimpi yang baik dari seorang
laki-laki yang shaleh adalah satu bagian dari 46 bagian kenabian. (H.
R. Bukhari)
B. Rumusan Masalah
1.
Apa itu mimpi
menurut Sigmund Freud?
2.
Apa itu mimpi
menurut Psikologi Islam?
C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui mimpi menurut Freud dan menurut
Islam
D. Manfaat Penulisan
Pembaca dapat mengetahui perbedaan mimpi menurut
Freud dan mimpi menurut Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Mimpi menurut Sigmund Freud
Sigmund
Freud adalah tokoh pencetus aliran psikodinamika dalam dunia psikologi yang
begitu fenomenal. Freud percaya bahwa ada sisi gelap dalam diri manusia yang
menyimpan ketakutan terlarang, dorongan, nafsu, amarah dan insting yang
tersembunyi. Hasrat bawah sadar yang tidak tampak ini tidak hanya diam begitu
saja dalam diri manusia, melainkan juga dapat menjadi musuh dan ancaman dari
dalam.
Pada
pergantian abad di Wina, Austria, Dr. Sigmund Freud mengklaim bahwa ia
menemukan pintu baru menuju alam bawah sadar, dengan cara meminta pasiennya untuk
menceritakan apa yang ada di dalam pikirannya atau mimpinya semalam, sigmund
freud percaya bahwa ia dapat menafsirkan makna yang terkandung dalam sebuah
mimpi dengan menggunakan teknik-teknik psikologis tertentu. Dalam klaimnya
tersebut Freud berpendapat bahwa tujuan dari mimpi-mimpi yang dialami manusia
adalah untuk sarana memuaskan atau pemenuhan hasrat (wish fulfillment) dari
dorongan insting alamiah yang tidak bisa diterima oleh masyarakat seperti
agresi, kekerasan, atau dorongan seksual.
Lebih
lanjut, dalam buku “The Interpretation of Dream” Freud memberikan formula yang
bisa merasionalkan mimpi yang paling membingungkan sekalipun. Teorinya tersebut
mengandalkan bagian dari pikiran yang berfungsi sebagai sensor, sensor yang
berfungsi untuk mengedit mimpi-mimpi kita. Jika kita memimpikan pemenuhan
hasrat yang sebenarnya, freud mengatakan, “hal itu akan menimbulkan emosi, dan
emosi kuat yang tercipta akan membangunkan kita.”. Oleh karena itu, sensor
tersebut mengubah isi mimpi yang menyamarkan makna sebenarnya. Freud menyebut
proses penyamaran makna ini sebagai transformasi hasrat atau “Dreamwork”, yang
terdiri dari beberapa proses.
·
Displacement, menggeser emosi dari satu
gagasan ke gagasan lainnya.
·
Condentation, meleburkan banyak gagasan
menjadi sebuah simbol. Bersama
·
Symbolization dan
·
Projection komponen “dreamwork”
bergabung untuk mengubah gagasan-gagasan mimpi yang sebenarnya menjadi gambaran
mimpi yang lebih bisa diterima.
Setelah sensor menyelesaikan “dreamwork”, ego
mengatur komponen-komponen aneh mimpi agar mimpi memiliki makna. Proses ini
yang kemudian oleh Freud disebut sebagai manifestasi mimpi.
Proses penafsiran mimpi melibatkan penguraian
isi “nyata” untuk menemukan makna sebenarnya dari mimpi yang tersembunyi atau
isi “mimpi terpendam”. Tafsir mimpi dalam buku Freud sebagian besar bertemakan
tentang bagaimana manusia hidup dengan sebuah kehilangan. Bagaimana
merasionalkan masa lalu dengan elemen-elemen masa lalu yang telah hilang, dan
bagaimana manusia menyimpannya menjadi bentuk yang bermakna untuk kehidupan
yang sekarang.
B. Mimpi menurut Islam
1. Tinjauan
dari Al-Qur’an
Terdapat
empat kalimat yang berbeda yang merujuk kepada mimpi di dalam al-Qur’an iaitu
ru’ya, Manam, bushra dan Adghasu ahlam. Dalam al-Qur’an kalimah Ru’ya muncul
enam kali iaitu dalam ayat 5 , 43, dan ayat 100 surah Yusuf, ayat 60 surah al
Isra’, ayat 105 surah al-Saffat, ayat 27 surah al-Fath. Sedangkan kalimat Manam
muncul empat kali. Dua kali merujuk kepada tidur yaitu dalam ayat 23 surah
al-Rum juga ayat 42 surah al-Zumar, dan dua kali merujuk kepada mimpi iaitu
dalam ayat 43 surah al-Anfal juga ayat 102 surah al-Saffat. Sedangkan kalimat
Bushra muncul sekali dalam alqur’an juga membawa maksud mimpi iaitu dalam ayat
64 surah Yunus. Ketiga-tiga kalimat iaitu Ru’ya Manam dan Bushra merujuk kepada
mimpi-mimpi yang baik.
Untuk mimpi yang buruk alqur’an mengunakan kalimat
Hulm. Kalimat Hulm muncul dalam alQur’an sebanyak dua kali yaitu dalam ayat 44
surah Yusuf dan dalam ayat 5 surah al-Anbiya’ , kedua-duanya merujuk kepada
adghath ahlam Iaitu mimpi-mimpi yang kacau. . Secara kasarnya terdapat sepuluh
kisah mimpi dalam al-Qur’an iaitu empat berkaitan dengan nabi Yusuf ,dua
berkaitan dengan nabi Ibrahim dan selebihnya ialah mimpi yang berkaitan dengan
nabi Muhammad s.a.w.
2. Tinjauan
As-Sunnah
Sebagaimana
al-Qur’an, al-Sunnah juga menaruh perhatian yang besar terhadap persoalan
mimpi. Al-Bukhari dalam himpunan hadis-hadis sahihnya telah meletakkan mimpi
dalam satu bab yaitu bab al-Ta’bir. Bab ini mengandungi 99 hadis tentang mimpi.
Kesemua hadis itu juga telah ditakhrijkan oleh Imam Muslim dalam sahihnya
kecuali beberapa hadis yang tidak terlibat. Dalam beberapa hadis Rasulullah
s.a.w, Rasul menyebut mimpi terbaagi dua iaitu al-Ru’ya dan al-Hulm. Antara
hadis-hadis tersebut ialah:
a. Sabda
rasulullah s.a.w dari hadis yang diriwayatkan oleh Abi Qatadah r.a.:
Yang artinya: Mimpi yang baik
‘ru’ya’ adalah dari Allah s..w.t, sedangkan mimpi buruk ‘al-Hulm’ adalah dari
syaitan. Siapa dikalangan kamu bermimpi sesuatu yang dibenci hendaklah meludah
kesebelah kiri sambil memohon perlindungan Allah. Nescaya syaitan tidak akan
memudaratkannya.
b. Sabda
rasulullah s.a.w dari hadis yang diriwayatkan oleh Abi Sa’id al-Khudri:
Yang artinya: Apabila kamu bermimpi
dengan mimpi yang disukai, hanya datang dari Allah s.w.t. Kerana itu hendaklah
memuji Allah s.w.t dan memberitahu kepada orang lain. Sebaliknya apabila
seseorang itu bermimpi dengan mimpi yang buruk, mimpi tersebut berasal dari
syaitan, maka hendaklah berlindung dengan Allah s.w.t dari kejahatnnya, dan
tidak menceritakannya kepada orang lain. Mimpi itu tidak akan memudaratkannya.
Dalam
hadis yang lain rasulullah s.a.w membagi mimpi menjadi tiga, sabda Rasulullah
s.a.w:
Yang
artinya: Mimpi ada tiga jenis: ru’ya solehah yang merupakan kabar gembira dari
Allah s.w.t, mimpi yang buruk berasal dari syaitan, dan mimpi yang termasuk
peristiwa yang dialami seseorang itu sendiri. Jika kamu bermimpi yang tidak
menyenangkan hendaklah ia bangkit dan mengerjakan solat. Dan janganlah ia
memberitahu mimpi itu kepada orang lain
Ibn
Khaldun membahagikan mimpi kepada tiga dengan bersandarkan hadis rasulullah
s.a.w: Yang artinya: Mimpi ada tiga bahagian iaitu mimpi dari Allah, mimpi dari
malaikat, dan mimpi dari syaitan
Mimpi
dari Allah s..w.t adalah mimpi yang jelas dan terang yang tidak memerlukan tafsiran.
Sedangkan mimpi dari malaikat adalah mimpi yang benar tetapi memerlukan penafsiran.
Sementara mimpi dari syaitan adalah mimpi-mimpi buruk yang tidak mempunyai arti.
Perbedaan dua atau tiga jenis mimpi tidaklah menunjukkan bahwa terdapat
pertentangan antara hadis-hadis rasulullah s.a.w karana mimpi yang berasal dari
peristiwa yang dialami oleh seseorang itu juga sebenarnya termasuk dalam
kategori Hulm. Dalam hadis diatas Hulm dimasukkan kedalam kategori ru’ya. Ru’ya
solehah adalah khabar gembira dari Allah sw.t. Mimpi jenis ini adalah sama
dengan mimpi yang dialami oleh para nabi yang telah disebutkan dalam al-Quran
al-Karim.
Mimpi
jenis kedua tergolong dalam Hulm yang menimbulkan kesedihan, keragu-raguan dan
kebatilan. Mimpi jenis ini berasal dari syaitan. Sementara mimpi jenis ketiga
merupakan pengalaman pribadi dimasa lampau atau ingatan yang terpendam dalam
alam bawah sedar seseorang yang kemudian muncul ketika sedang tidur. Mimpi
jenis kedua dan ketiga dikategorikan sebagai Hulm yang menjadi objek kajian
para psikologis moden. Sedangkan mimpi jenis pertama merupakan ru’ya solehah
atau ru’ya sodiqah yang tidak tercakup dalam bidang kajian psikologi moden.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Tafsir mimpi dalam buku Freud sebagian
besar bertemakan tentang bagaimana manusia hidup dengan sebuah kehilangan.
Bagaimana merasionalkan masa lalu dengan elemen-elemen masa lalu yang telah
hilang, dan bagaimana manusia menyimpannya menjadi bentuk yang bermakna untuk
kehidupan yang sekarang.
Sedangkan
dalam islam, mimpi dibagi 4 kalimat yang merujuk pada mimpi dalam Al-Qur’an (Ru’ya,
Manam, Bushra dan adghasu ahlam). Dalam As-Sunnah terdapat kata seperti Ru’ya
yang berarti mimpi yang baik yang berasal dari Allah, dan Hulm yang berarti
mimpi buruk yang berasal dari syaitan. Jika mimpi itu baik, maka lebih baik
diceritakan kepada orang lain, namun apabila mimpi itu buruk, maka lebih baik
tidak diceritakan kepada orang lain
