Kamis, 07 Januari 2016

Mimpi Menurut Psikologi Islam

MIMPI MENURUT PSIKOLOGI ISLAM
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Islam dan Psikologi




Disusun Oleh:

Dewangga Aji (11140700000083)





FAKULTAS PSIKOLOGI UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2016


KATA PENGANTAR


            Segala puji syukur kami haturkan ke hadirat Allah Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan bimbingan-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.
            Makalah ini merupakan hasil dari tugas mata kuliah Islam dan Psikologi. Makalah ini berupa penjabaran tentang Mimpi Menurut Psikologi Islam. Makalah ini dibuat untuk kebutuhan nilai mata kuliah Islam dan Psikologi.
            Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menjadi salah satu media pembelajaran bagi para mahasiswa dalam mempelajari mimpi menurut Islam. Kritik dan saran dari teman-teman pembaca sangat penulis harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan dalam belajar pada masa mendatang.





Jakarta, 8 Januari 2016

Penulis









DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR         ………………………………………………            i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………            ii
BAB I :PENDAHULUAN   ………………………………………………            1
A. Latar Belakang       ………………………………………………………            1
B. Rumusan Masalah              ………………………………………………            1
C. Tujuan Penulisan………………………………………………………...             1
D. Manfaat Penulisan………………………………………………………             1
BAB II : PEMBAHASAN   ……………………………………………....            2
A. Mimpi Menurut Sigmund Freud    ………………………………………            2
B. Mimpi Menurut Islam        ……………..………………………..………            3
BAB III   : PENUTUP         ………………………………………………            6
DAFTAR PUSTAKA          ………………………………………………            7







BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
            Mimpi merupakan sesuatu yang ghaib. Setiap manusia pasti telah merasakannya, ia datang tidak terduga, kadang diharapkan kehadirannya dan kadang tidak. Bagi sebagian orang mimpi dianggap sebagai bunga tidur, boleh jadi ungkapan itu untuk menunjukkan antara mimpi dan kenyataan tidak ada kaitan sama sekali. Setiap kali bermimpi dalam tidur akan berlalu begitu saja. Mimpi hanyalah hiasan manis dalam tidur tergantung kondisi psikologis orang yang bersangkutan.Tetapi tidak sedikit orang yang mempercayaai bahwa mimpi-mimpi tertentu merupakan isyarat baik dan buruk yang akan menimpa diri seseorang. Sehingga bagi mereka yang pernah bermimpi berusaha mencari tahu gerangan apa yang bakal terjadi dalam kehidupannya, baik atau buruk. 
Dalam pandangan Islam tidak semua mimpi mengandung kebenaran. Mimpi para nabi dan kekasih Allah (awliya) adalah mimpi yang merupakan wahyu dari Allah, yang benar dan sakral. Mimpi orang-orang salih hampir selalu benar dan bermakna. Rasulullah SAW bersabda “Mimpi yang benar merupakan satu bagian dari empat puluh enam cabang kenabian.”  “Mimpi yang baik dari seorang laki-laki yang shaleh adalah satu bagian dari 46 bagian kenabian. (H. R. Bukhari)

B.   Rumusan Masalah
1.      Apa itu mimpi menurut Sigmund Freud?
2.      Apa itu mimpi menurut Psikologi Islam?

C.   Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui mimpi menurut Freud dan menurut Islam

D.   Manfaat Penulisan
Pembaca dapat mengetahui perbedaan mimpi menurut Freud dan mimpi menurut Islam


BAB II
PEMBAHASAN
A.   Mimpi menurut Sigmund Freud
Sigmund Freud adalah tokoh pencetus aliran psikodinamika dalam dunia psikologi yang begitu fenomenal. Freud percaya bahwa ada sisi gelap dalam diri manusia yang menyimpan ketakutan terlarang, dorongan, nafsu, amarah dan insting yang tersembunyi. Hasrat bawah sadar yang tidak tampak ini tidak hanya diam begitu saja dalam diri manusia, melainkan juga dapat menjadi musuh dan ancaman dari dalam.
Pada pergantian abad di Wina, Austria, Dr. Sigmund Freud mengklaim bahwa ia menemukan pintu baru menuju alam bawah sadar, dengan cara meminta pasiennya untuk menceritakan apa yang ada di dalam pikirannya atau mimpinya semalam, sigmund freud percaya bahwa ia dapat menafsirkan makna yang terkandung dalam sebuah mimpi dengan menggunakan teknik-teknik psikologis tertentu. Dalam klaimnya tersebut Freud berpendapat bahwa tujuan dari mimpi-mimpi yang dialami manusia adalah untuk sarana memuaskan atau pemenuhan hasrat (wish fulfillment) dari dorongan insting alamiah yang tidak bisa diterima oleh masyarakat seperti agresi, kekerasan, atau dorongan seksual.
Lebih lanjut, dalam buku “The Interpretation of Dream” Freud memberikan formula yang bisa merasionalkan mimpi yang paling membingungkan sekalipun. Teorinya tersebut mengandalkan bagian dari pikiran yang berfungsi sebagai sensor, sensor yang berfungsi untuk mengedit mimpi-mimpi kita. Jika kita memimpikan pemenuhan hasrat yang sebenarnya, freud mengatakan, “hal itu akan menimbulkan emosi, dan emosi kuat yang tercipta akan membangunkan kita.”. Oleh karena itu, sensor tersebut mengubah isi mimpi yang menyamarkan makna sebenarnya. Freud menyebut proses penyamaran makna ini sebagai transformasi hasrat atau “Dreamwork”, yang terdiri dari beberapa proses.
·         Displacement, menggeser emosi dari satu gagasan ke gagasan lainnya.
·         Condentation, meleburkan banyak gagasan menjadi sebuah simbol. Bersama
·         Symbolization dan
·         Projection komponen “dreamwork” bergabung untuk mengubah gagasan-gagasan mimpi yang sebenarnya menjadi gambaran mimpi yang lebih bisa diterima.
Setelah sensor menyelesaikan “dreamwork”, ego mengatur komponen-komponen aneh mimpi agar mimpi memiliki makna. Proses ini yang kemudian oleh Freud disebut sebagai manifestasi mimpi.
 Proses penafsiran mimpi melibatkan penguraian isi “nyata” untuk menemukan makna sebenarnya dari mimpi yang tersembunyi atau isi “mimpi terpendam”. Tafsir mimpi dalam buku Freud sebagian besar bertemakan tentang bagaimana manusia hidup dengan sebuah kehilangan. Bagaimana merasionalkan masa lalu dengan elemen-elemen masa lalu yang telah hilang, dan bagaimana manusia menyimpannya menjadi bentuk yang bermakna untuk kehidupan yang sekarang.

B.   Mimpi menurut Islam
1.      Tinjauan dari Al-Qur’an
Terdapat empat kalimat yang berbeda yang merujuk kepada mimpi di dalam al-Qur’an iaitu ru’ya, Manam, bushra dan Adghasu ahlam. Dalam al-Qur’an kalimah Ru’ya muncul enam kali iaitu dalam ayat 5 , 43, dan ayat 100 surah Yusuf, ayat 60 surah al Isra’, ayat 105 surah al-Saffat, ayat 27 surah al-Fath. Sedangkan kalimat Manam muncul empat kali. Dua kali merujuk kepada tidur yaitu dalam ayat 23 surah al-Rum juga ayat 42 surah al-Zumar, dan dua kali merujuk kepada mimpi iaitu dalam ayat 43 surah al-Anfal juga ayat 102 surah al-Saffat. Sedangkan kalimat Bushra muncul sekali dalam alqur’an juga membawa maksud mimpi iaitu dalam ayat 64 surah Yunus. Ketiga-tiga kalimat iaitu Ru’ya Manam dan Bushra merujuk kepada mimpi-mimpi yang baik.

Untuk mimpi yang buruk alqur’an mengunakan kalimat Hulm. Kalimat Hulm muncul dalam alQur’an sebanyak dua kali yaitu dalam ayat 44 surah Yusuf dan dalam ayat 5 surah al-Anbiya’ , kedua-duanya merujuk kepada adghath ahlam Iaitu mimpi-mimpi yang kacau. . Secara kasarnya terdapat sepuluh kisah mimpi dalam al-Qur’an iaitu empat berkaitan dengan nabi Yusuf ,dua berkaitan dengan nabi Ibrahim dan selebihnya ialah mimpi yang berkaitan dengan nabi Muhammad s.a.w.
2.      Tinjauan As-Sunnah
Sebagaimana al-Qur’an, al-Sunnah juga menaruh perhatian yang besar terhadap persoalan mimpi. Al-Bukhari dalam himpunan hadis-hadis sahihnya telah meletakkan mimpi dalam satu bab yaitu bab al-Ta’bir. Bab ini mengandungi 99 hadis tentang mimpi. Kesemua hadis itu juga telah ditakhrijkan oleh Imam Muslim dalam sahihnya kecuali beberapa hadis yang tidak terlibat. Dalam beberapa hadis Rasulullah s.a.w, Rasul menyebut mimpi terbaagi dua iaitu al-Ru’ya dan al-Hulm. Antara hadis-hadis tersebut ialah:

a.       Sabda rasulullah s.a.w dari hadis yang diriwayatkan oleh Abi Qatadah r.a.:
Yang artinya: Mimpi yang baik ‘ru’ya’ adalah dari Allah s..w.t, sedangkan mimpi buruk ‘al-Hulm’ adalah dari syaitan. Siapa dikalangan kamu bermimpi sesuatu yang dibenci hendaklah meludah kesebelah kiri sambil memohon perlindungan Allah. Nescaya syaitan tidak akan memudaratkannya.

b.      Sabda rasulullah s.a.w dari hadis yang diriwayatkan oleh Abi Sa’id al-Khudri:
Yang artinya: Apabila kamu bermimpi dengan mimpi yang disukai, hanya datang dari Allah s.w.t. Kerana itu hendaklah memuji Allah s.w.t dan memberitahu kepada orang lain. Sebaliknya apabila seseorang itu bermimpi dengan mimpi yang buruk, mimpi tersebut berasal dari syaitan, maka hendaklah berlindung dengan Allah s.w.t dari kejahatnnya, dan tidak menceritakannya kepada orang lain. Mimpi itu tidak akan memudaratkannya.


Dalam hadis yang lain rasulullah s.a.w membagi mimpi menjadi tiga, sabda Rasulullah s.a.w:
Yang artinya: Mimpi ada tiga jenis: ru’ya solehah yang merupakan kabar gembira dari Allah s.w.t, mimpi yang buruk berasal dari syaitan, dan mimpi yang termasuk peristiwa yang dialami seseorang itu sendiri. Jika kamu bermimpi yang tidak menyenangkan hendaklah ia bangkit dan mengerjakan solat. Dan janganlah ia memberitahu mimpi itu kepada orang lain

Ibn Khaldun membahagikan mimpi kepada tiga dengan bersandarkan hadis rasulullah s.a.w: Yang artinya: Mimpi ada tiga bahagian iaitu mimpi dari Allah, mimpi dari malaikat, dan mimpi dari syaitan

Mimpi dari Allah s..w.t adalah mimpi yang jelas dan terang yang tidak memerlukan tafsiran. Sedangkan mimpi dari malaikat adalah mimpi yang benar tetapi memerlukan penafsiran. Sementara mimpi dari syaitan adalah mimpi-mimpi buruk yang tidak mempunyai arti. Perbedaan dua atau tiga jenis mimpi tidaklah menunjukkan bahwa terdapat pertentangan antara hadis-hadis rasulullah s.a.w karana mimpi yang berasal dari peristiwa yang dialami oleh seseorang itu juga sebenarnya termasuk dalam kategori Hulm. Dalam hadis diatas Hulm dimasukkan kedalam kategori ru’ya. Ru’ya solehah adalah khabar gembira dari Allah sw.t. Mimpi jenis ini adalah sama dengan mimpi yang dialami oleh para nabi yang telah disebutkan dalam al-Quran al-Karim.

Mimpi jenis kedua tergolong dalam Hulm yang menimbulkan kesedihan, keragu-raguan dan kebatilan. Mimpi jenis ini berasal dari syaitan. Sementara mimpi jenis ketiga merupakan pengalaman pribadi dimasa lampau atau ingatan yang terpendam dalam alam bawah sedar seseorang yang kemudian muncul ketika sedang tidur. Mimpi jenis kedua dan ketiga dikategorikan sebagai Hulm yang menjadi objek kajian para psikologis moden. Sedangkan mimpi jenis pertama merupakan ru’ya solehah atau ru’ya sodiqah yang tidak tercakup dalam bidang kajian psikologi moden.










BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
      Tafsir mimpi dalam buku Freud sebagian besar bertemakan tentang bagaimana manusia hidup dengan sebuah kehilangan. Bagaimana merasionalkan masa lalu dengan elemen-elemen masa lalu yang telah hilang, dan bagaimana manusia menyimpannya menjadi bentuk yang bermakna untuk kehidupan yang sekarang.
        Sedangkan dalam islam, mimpi dibagi 4 kalimat yang merujuk pada mimpi dalam Al-Qur’an (Ru’ya, Manam, Bushra dan adghasu ahlam). Dalam As-Sunnah terdapat kata seperti Ru’ya yang berarti mimpi yang baik yang berasal dari Allah, dan Hulm yang berarti mimpi buruk yang berasal dari syaitan. Jika mimpi itu baik, maka lebih baik diceritakan kepada orang lain, namun apabila mimpi itu buruk, maka lebih baik tidak diceritakan kepada orang lain




Tidak ada komentar:

Posting Komentar